Cara Menentukan Arah Kiblat: Kompas, Bayangan Matahari, dan Rumus
Empat cara menentukan arah kiblat di rumah atau musala: kompas, aplikasi, bayangan matahari saat rashdul kiblat, dan perhitungan rumus segitiga bola.
Saat pindah rumah, menata musala kantor, atau menginap di hotel, pertanyaan yang sama selalu muncul: ke mana arah kiblat yang tepat? Banyak orang di Indonesia hanya menghadap "ke barat". Padahal arah kiblat dari seluruh Indonesia sebenarnya barat laut, sekitar 21–25° dari arah barat ke utara.
Hukum menghadap kiblat
"...Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya..." (QS. Al-Baqarah: 144)
Menghadap kiblat adalah syarat sah shalat. Orang yang bisa melihat Ka'bah wajib menghadap bangunannya secara langsung ('ainul ka'bah). Untuk orang yang jauh, ulama berbeda pendapat. Mazhab Syafi'i tetap menuntut usaha menghadap bangunan Ka'bah semampunya, sedangkan jumhur ulama menganggap cukup menghadap arahnya (jihatul ka'bah). Kedua pendapat sepakat bahwa kita wajib berusaha menentukan arah sebaik mungkin dengan sarana yang ada.
Majelis Ulama Indonesia melalui Fatwa No. 5 Tahun 2010 menegaskan bahwa kiblat umat Islam Indonesia adalah arah barat laut, dengan derajat yang berbeda-beda sesuai lokasi.
Cara 1: Menghitung dengan rumus
Arah kiblat dihitung dengan ilmu ukur segitiga bola, karena bumi berbentuk bulat. Yang dibutuhkan hanya koordinat lokasi (lintang dan bujur) dan koordinat Ka'bah (21,4225° LU, 39,8262° BT). Hasilnya berupa azimut, yaitu sudut dari arah utara searah jarum jam.
Anda tidak perlu menghitungnya sendiri. Masukkan kota atau koordinat Anda ke kalkulator arah kiblat, dan hasilnya langsung keluar beserta gambar kompasnya. Sebagai gambaran:
| Kota | Azimut kiblat |
|---|---|
| Banda Aceh | ± 292° |
| Jakarta | ± 295° |
| Sukabumi | ± 295° |
| Surabaya | ± 294° |
| Jayapura | ± 291° |
Cara 2: Kompas
Setelah tahu angka azimut, gunakan kompas untuk menerapkannya di lapangan:
- Letakkan kompas di permukaan datar. Jauhkan dari besi, speaker, kulkas, atau kabel listrik.
- Tunggu jarum diam, lalu putar kompas sampai jarum utara tepat di angka 0°.
- Cari angka azimut kiblat Anda (misalnya 295°). Garis dari pusat kompas ke angka itu adalah arah kiblat.
- Tandai arah tersebut dengan benang, lakban, atau garis di lantai.
Kompas di ponsel memakai sensor magnet yang mudah terganggu. Sebelum dipakai, kalibrasi dengan menggerakkan ponsel membentuk angka delapan. Lalu ulangi pengukuran di dua atau tiga titik berbeda dalam ruangan. Jika hasilnya berbeda jauh, kemungkinan ada gangguan logam di sekitarnya.
Cara 3: Bayangan matahari saat rashdul kiblat
Ini cara paling akurat dan tidak butuh alat apa pun. Dua kali dalam setahun, matahari berada tepat di atas Ka'bah. Pada saat itu, semua benda tegak di belahan bumi yang masih terkena sinar matahari akan memiliki bayangan yang membelakangi Ka'bah.
| Tanggal | WIB | WITA |
|---|---|---|
| 27 dan 28 Mei | 16.18 | 17.18 |
| 15 dan 16 Juli | 16.27 | 17.27 |
Langkahnya:
- Siapkan tongkat, tiang, atau benang berbandul, dan pastikan benar-benar tegak lurus.
- Cocokkan jam dengan waktu yang akurat, misalnya jam di ponsel yang tersinkron dengan jaringan.
- Tepat pada jam tersebut, tandai garis bayangannya.
- Arah dari ujung bayangan menuju pangkal tongkat adalah arah kiblat.
Toleransi sekitar ±5 menit dari waktu tersebut masih memberi hasil yang baik. Untuk wilayah WIT (Maluku dan Papua), matahari sudah terbenam pada jam itu. Gunakan cara kompas atau rumus, atau manfaatkan saat matahari tepat berada di titik yang berlawanan dengan Ka'bah: sekitar 28 November pukul 09.09 WIB (11.09 WIT) dan 13 Januari pukul 09.30 WIB (11.30 WIT). Pada momen itu, bayangan justru mengarah ke kiblat.
Cara 4: Mencocokkan dengan masjid terdekat
Masjid yang arah kiblatnya sudah diukur ulang oleh Kementerian Agama atau tim falak setempat bisa menjadi patokan. Namun jangan mengandalkan masjid lama yang belum pernah dicek, karena banyak di antaranya dibangun hanya menghadap ke barat.
Bagaimana jika arah kiblat masjid ternyata melenceng?
Shalat yang sudah dikerjakan berdasarkan ijtihad yang sungguh-sungguh tetap sah dan tidak perlu diulang. Jika kemudian diketahui ada kekeliruan, cukup luruskan shaf ke arah yang benar tanpa harus membongkar bangunan. Banyak masjid di Indonesia melakukannya dengan membuat garis shaf baru yang agak miring terhadap dinding.
Tips: ukur arah kiblat rumah Anda dengan dua cara berbeda, misalnya kalkulator + kompas, lalu verifikasi dengan bayangan matahari pada bulan Mei atau Juli.